Ketua Forum Mahasiswa Peundeuy sekaligus salah satu koordinator lapangan (korlap) aksi GEMA BSP, Galih Raksa, angkat bicara terkait beredarnya foto yang dikenal publik sebagai foto “martabak” dan sempat menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat, khususnya warga Banjarwangi–Singajaya–Peundeuy.
MediaCrimeLine.Com||Garut – Galih menegaskan, foto tersebut tidak boleh dipahami secara sepihak ataupun dijadikan dasar untuk membangun asumsi liar mengenai aksi GEMA BSP. Ia menjelaskan, foto itu diambil sebelum aksi berlangsung, tepatnya pada 18 Agustus sekitar pukul 21.00 WIB, dalam sebuah pertemuan singkat yang membahas kemungkinan negosiasi terkait tuntutan aksi.
Menurut Galih, saat itu dirinya bersama Jajang Nuralamin selaku Sekretaris GEMA BSP dan Lukman selaku Korlap GEMA, turut didampingi Kasat Intel serta Uje. Pertemuan tersebut, kata dia, berlangsung setelah adanya undangan dari pihak Kepala Dinas PUPR yang disebut berencana datang ke wilayah Singajaya.
“Foto yang beredar soal martabak itu saya yang mengambil. Posisi saya kebetulan berhadapan dengan Kadis PUPR dan Kang Lukman. Pertemuan itu bukan dalam rangka mengkhianati gerakan, tetapi membahas kemungkinan negosiasi terhadap tuntutan yang akan kami sampaikan,” ujar Galih dalam klarifikasinya.
Ia menyebut, pembahasan utama saat itu adalah terkait lokasi aksi. Mereka mempertimbangkan apakah aksi akan digelar di depan gedung DPRD, kantor Bupati, maupun kantor PUPR. Namun, pembicaraan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan karena tuntutan yang dibawa massa belum dapat diakomodasi oleh pihak terkait.
“Karena tidak terjadi kesepakatan dan Kadis PUPR tidak sanggup mengakomodir tuntutan, maka aksi tetap akan digelar,” tegasnya.
Galih menjelaskan, pertemuan tersebut juga berlangsung singkat, sekitar 15 menit. Bahkan, suasana saat itu disebut berlangsung bertepatan dengan pertandingan Persib.
Namun, persoalan muncul setelah dirinya mengetahui adanya perubahan rute aksi yang disebut dilakukan tanpa koordinasi dengan seluruh koordinator. Galih mengaku kecewa karena merasa keputusan tersebut tidak dikomunikasikan secara terbuka.
Ia kemudian mengirimkan foto tersebut kepada salah satu anggota grup koordinator dengan keterangan singkat, yang menurutnya tidak bermaksud membangun narasi negatif.
“Saya hanya menyampaikan, ‘Aneh da geus waktuna tinggal turun aksi masih keneh loby-loby.’ Tidak ada narasi berlebihan. Tetapi foto tersebut kemudian beredar luas dan berkembang menjadi berbagai asumsi di masyarakat,” ungkapnya.
Galih pun mengakui adanya persoalan komunikasi internal yang kemudian memicu kesalahpahaman. Pascaaksi, ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Lukman dan menyampaikan permintaan maaf. Keduanya juga saling meminta maaf atas miskomunikasi yang terjadi.
Menurut Galih, polemik foto tersebut seharusnya tidak mengaburkan substansi utama perjuangan GEMA BSP dan masyarakat, yakni memperjuangkan pemerataan serta keadilan pembangunan di wilayah Banjarwangi–Singajaya–Peundeuy.
Ia meminta masyarakat tidak terprovokasi oleh potongan informasi maupun foto yang beredar tanpa konteks.
“Karena bagaimanapun ini sudah menjadi framing dan asumsi liar di masyarakat. Saya meminta masyarakat tetap dingin dan kembali fokus pada substansi tujuan aksi kemarin, yaitu menuntut keadilan pembangunan,” katanya.
Galih menilai aksi tersebut pada dasarnya lahir dari keresahan masyarakat yang telah lama menunggu perhatian serius pemerintah terhadap persoalan pembangunan di wilayah selatan Garut.
Menurutnya, perbedaan pandangan maupun kesalahan komunikasi dalam sebuah gerakan merupakan hal yang harus diselesaikan secara dewasa, bukan justru menjadi alasan untuk memecah konsolidasi masyarakat.
“Hingga pada kesimpulannya, menurut saya semuanya memiliki niat baik. Ini adalah gerakan alam sadar masyarakat yang sudah jengkel dengan kebijakan Pemkab. Hanya saja, dalam proses perjuangan ini terdapat beberapa komunikasi yang salah dan tidak tepat sehingga menjadi pemicu huru-hara kembali di kalangan publik,” ujarnya.
Galih menegaskan, terlepas dari dinamika internal maupun kepentingan masing-masing pihak, perjuangan masyarakat harus tetap dikembalikan kepada tujuan utamanya.
“Terlepas daripada kepentingan apa pun, tetaplah kepentingan rakyat di atas segalanya,” pungkasnya.
Pewarta : Rusmana


















